POSRAKYAT.ID – Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Benyamin Davnie memaparkan perkembangan penanganan sampah, setelah berakhirnya status tanggap darurat, pasca penutupan TPA Cipeucang.
“Ya alhamdulillah, prinsipnya sudah ketemu jalan ya. Yang pertama bahwa Cipeucang tetap tidak akan kita gunakan sebagai tempat pembuangan akhir, tapi di situ akan kita jadikan tempat pemrosesan akhir sampah dengan pendekatan teknologi tentunya,” jelasnya, Rabu 28 Januari 2026.
Untuk memenuhi kebutuhan pengolahan sampah, Pemkot Tangsel juga menjalin kerja sama dengan Cilowong dalam skema PSEL.
“Kemudian untuk memenuhi kebutuhan sampah di daerah yang lain, untuk PSEL ini kan harus 1.000 ton, maka kami kemudian melakukan kerjasama kan dengan Cilowong yang alhamdulillah sudah berjalan,” kata Benyamin.
Saat ini, lanjut Benyamin, pengangkutan sampah ke Cilowong hampir mencapai kapasitas maksimal. “Sekarang kapasitasnya sudah hampir mencapai maksimal, 400 ton sekarang ini, kurang lebih 70 truk per malam, 70 kali 4, 280 ton per hari per malamnya kita angkut ke sana,” tambahnya
Namun demikian, Benyamin menekankan, bahwa fokus utama Pemkot Tangsel ke depan adalah pengelolaan sampah dari hulu, yakni langsung di tingkat masyarakat.
Salah satunya, lanjut Benyamin, melalui program pembuatan lubang biopori di setiap kelurahan.
“Kita, saya sudah targetkan setiap kelurahan paling tidak membuat lubang biopori di masyarakat itu 1.000 sampai 2.000 lubang,” jelasnya.
Selain itu, Pemkot Tangsel juga membangun fasilitas TEBA modern di kantor-kantor pemerintahan, sebagai upaya pemusnahan sampah mandiri.
“Demikian juga dengan TEBA modern ya. Itu kita bikin di kantor-kantor pemerintah, kantor Kelurahan, kantor Kecamatan.” terangnya.
Terkait armada pengangkut sampah, Benyamin mengakui, masih terdapat keterbatasan jumlah truk. Namun, Pemkot Tangsel tengah menyelesaikan proses kontraktual pengadaan transporter tambahan.
“Kalau seumpamanya transporter ada, itu ada 42 truk dari pihak swasta yang bisa mengangkut sampah di Tangerang Selatan,” terangnya.
Benyamin menambahkan, kondisi saat ini belum masuk kategori darurat sampah jangka panjang. “Belum sampai kepada darurat sampah. Karena beda kalau tanggap darurat sampah kan hanya 14 hari, kalau darurat sampah bisa 6 bulan,” pungkasnya.

