POSRAKYAT.ID – Direktur Eksekutif KPN, Adib Miftahul mengatakan, sejak dilantik Februari 2025 lalu, Wali Kota Serang Budi Rustandi masih terlihat gagap dalam membawa arah pembangunan Ibu Kota Provinsi Banten itu.
Adib menganggap, pasangan Budi Rustandi dan Nur Agis Aulia tidak memiliki desain dalam membangun Kota yang bertajuk Bertaqwa itu. “Lebih cocok jadi tukang bangunan,” tegas Adib, Rabu 14 Januari 2026.
Menurut Adib, Kader Gerindra itu, belum menjadi pemecah masalah bagi masyarakat Kota Serang. “Serang sekarang banjir, jalan rusak, arah pembangunannya juga enggak jelas. Padahal Ibu Kota Provinsi Banten,” bebernya.
Sebagai penentu kebijakan, sambungnya, Budi Rustandi harus mengarahkan kebijakan pembangunan yang pro terhadap publik.
Adib menyatakan, program-program pencitraan, justru akan membawa gambaran buruk bagi pasangan Budi Rustandi dan Nur Agis Aulia.
“Masyarakat enggak perlu program-program pencitraan. Kebijakan-kebijakan pencitraan itu, cuma bikin dia keliatan kerja aja, padahal enggak punya solusi buat permasalahan masyarakat Kota Serang,” bebernya.
Secara politis, kebijakan Budi Rustandi itu lebih deket dengan Gubernur Banten. Apalagi mereka satu bendera. Pemerintah Provinsi juga pasti punya kepentingan politik, agar Ibu Kotanya tertata, rapih. Betul kan?” ungkap Adib.
Sebelumnya, Adib Miftahul menyebut, Budi Rustandi dan Nur Agis Aulia harus menjadi problem solver, bukan hanya ‘genit’ di media sosial (Medsos).
“Pertama, menurut saya Wali Kota ini gagap dengan jabatannya. Akhirnya bikin kebijakan-kebijakan itu, memang pencitraan kebijakan. Maksudnya, biar dia terlihat kerja, tapi kenyataannya tidak solutif,” ujar Adib.
Budi Rustandi, sambung Adib, tampak masih bingung dengan grand desain terhadap Kota Serang sendiri. “Budi Rustandi keliatannya bingung dengan desain Kota Serang, yang mau dibawa kemana prioritas pembangunannya,” ungkapnya.
Pemerintah Kota (Pemkot) Serang, hingga kini belum menentukan arah kebijakan prioritas bagi masyarakatnya. “Seperti banjir, indeks pembangunan manusia, akses kesehatan, akses pendidikan itu akhirnya apa, lambat bergeraknya,” tegas Adib.
Adib sendiri menyinggung, manakala di media sosial, Budi Rustandi ‘menyalahkan’ drainase yang menyempit. “Kalau Wali Kota Serang hari ini cuma nyalahin selokan, mendingan tanya sama tukang taman aja, enggak usah jadi Wali Kota,” bebernya.
Dia kan punya kekuasaan, punya anggaran, harusnya kerjain, kan begitu. Kalau dia cuma nyalahin selokan, mendingan jadi tukang bangunan aja. Wali Kota Serang mirip Ketua RT kalau kerjaannya kayak begitu,” tambah Adib.

